Pages

Sabtu, 11 Oktober 2014

Tugas Psikologi Manajemen


Tugas Pertemuan  1

I        a. Apa itu manajemen …
b. Sebutkan jenis manajemen …
c. Apa itu psikologi manajemen …
d. Tujuan psikologi manajemen …

II      a. Apa itu kepemimpinan …
b. Teori kepemimpinan …

III     a. Pengertian perencanaan …
b. Manfaat perencanaan …
c. Jenis perencanaan dalam organisasi …


-          Pembahasan -
I (a) Manajemen
Dalam buku Manajemen Teori, Praktik, & Riset Pendidikan, kata  manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.
Kata manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

I (b) Jenis Manajemen

    A. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah.

    B. Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada    intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan.

    C. Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi.

    D. Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan.

    E.  Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

   F. Manajemen Strategi, Secara sederhana manajemen dapat di artikan sebagai Perencanaan, Pengorganisasian, Pergerakan, Pengawasan dalam rangka pengambilan keputusan.

     G.  Manajemen Operasi adalah area bisnis yang berfokus pada proses produksi barang dan jasa, serta memastikan operasi bisnis berlangsung secara efektif dan efesien. Seorang manajer operasi bertanggung jawab mengelola proses pengubahan input (dalam bentuk material, tenaga kerja, dan energi) menjadi output (dalam bentuk barang dan jasa).

I (c) Psikologi Manajemen

Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, dulu dalam manajemen, orang berproduksi hanya mengandalkan sumber daya alam. Misalnya, orang berburu, memancing atau memetik hasil hutan saja untuk memenuhi keperluannya. Tetapi lama-kelamaan mulai terasa bahwa dengan menambahkan sumber daya manusia (terutama akalnya), maka orang akan bisa lebih efektif dan efisien dalam berproduksi. Maka mulailah dikenal pertanian, peternakan dan upaya budi daya sumber-sumber alam lainnya.
Setelah itu, timbul lagi kebutuhan akan modal, karena dengan investasi dana tertentu, akan bisa dibuat alat tertentu untuk lebih meningkatkan lagi efisiensi dan efektivitas produksi. Maka sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Sumber Daya Uang) dan SDM (Sumber Daya Manusia), dan ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja itu.

I (d) Tujuan Psikologi Manajemen

- Untuk mendapatkan pemecahan bagi masalah-masalah yang penting berkenaan dengan penggunaan tenaga manusia di dalam proses manajemen.
-    Agar dunia manajemen mampu menggunakan prosedur-prosedur yang lebih relevan / tepat untuk memecahkan masalah-masalah human (kemanusiaan).


II (a) Kepemimpinan

Menurut George P. Terry
Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok

Menurut H. Koontz dan C. O’Donnell
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam  mencapai tujuan umum

Menurut R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik
Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan

Menurut Katz dan Kahn
Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi

Menurut Rauch dan Behling
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan

Menurut Jacobs dan Jacques
            Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran

Menurut Wahjosumidjo (1984:26)

Butir-butir pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan makna :
 Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan.
Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri.
Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi.
Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah:
- Seni untuk menciptakan kesesuaian paham
- Bentuk persuasi dan inspirasi
- Kepribadian yang mempunyai pengaruh
- Tindakan dan perilaku
- Titik sentral proses kegiatan kelompok
- Hubungan kekuatan/kekuasaan
- Sarana pencapaian tujuan
- Hasil dari interaksi
- Peranan yang dipolakan
- Inisiasi struktur

II (b) Teori Kepemimpinan

Dalam suatu kepemimpinan, tentu pada dasarnya ada teori yang menjadi dasar terbentuknya kepemimpinan. Berikut ini merupakan 4 teori kepemimpinan, yaitu:
1.  Teori Great Man dan Teori Big Bang
Dalam teori Great Man dan Big Bang, suatu kepemimpinan merupakan bakat atau bawaan yang sudah muncul sejak seseorang dilahirkan ke dunia. Bennis & Nanus (1990) menjelaskan bahwa teori ini berasumsi pemimpin bukan diciptakan, melainkan dilahirkan.
Kekuasaan berada pada sejumlah orang tertentu, yang melalui proses pewarisan memiliki kemampuan memimpin atau karena keberuntungan memiliki bakat untuk menempati posisi sebagai pemimpin. Seperti istilah “Asal Raja Menjadi Raja”.
Suatu peristiwa besar bisa menciptakan seseorang menjadi pemimpin. Seorang pemimpin mampu mengintegrasikan antara situasi dan pengikut. Dan situasi merupakan peristiwa besar seperti revolusi, kekacauan/kerusuhan, pemberontakan, reformasi, dll. Dalam hal ini, pengikut adalah orang yang menokohkan seseorang dan bersedia patuh dan taat.

2.  Teori Sifat (Karakteristik) Kepribadian / Trait Theories  
Dalam teori ini, seseorang dapat menjadi pemimpin apabila memiliki sifat yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin.  Dan titik tolak teori ini menyebutkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat kepribadian baik secara fisik maupun psikologis. Keefektifan pemimpin ditentukan oleh sifat, perangai atau ciri kepribadian  yang bukan saja bersumber dari bakat, tapi dari pengalaman dan hasil belajar.
Tetapi di dalam Teori Sifat, terdapat kelemahan sebagai berikut: tidak selalu ada relevansi antara sifat-sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan, situasi dan kondisi tertentu yang ternyata memerlukan sifat tertentu pula berbeda dari yang lain.

3. Teori Perilaku (Behavior Theories)
Disebutkan di dalam teori ini, bahwa keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung pada perilakunya dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpina. Gaya atau perilaku kepemimpinan tampak dari cara melakukan pengambilan keputusan, cara memerintah (instruksi), cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat bawahan, cara membimbing dan mengarahkan, cara menegakkan disiplin, cara memimpin rapat, cara menegur dan memberikan sanksi.
Berikut ini merupakan bagian dari Teori Perilaku :
  • Teori X dan Y
  • Studi Kepemimpinan Universitas IOWA
  • Studi Kepemimpinan Universitas OHIO
  • Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
  • Managerial Grid
  • Empat Sistem Manajemen Likert

4.  Teori Kontingensi atau Teori Situasional  
Teori Kontingensi atau Teori Situasional ini menyebutkan bahwa resistensi atas teori kepemimpinan sebelumnya yang memberlakukan asas-asas umum untuk semua situasi. Teori ini berpendapat bahwa tidak ada satu jalan (kepemimpinan) terbaik untuk mengelola dan mengurus satu organisasi.

5. Teori Orang Terkemuka
Kelompok teori ini disusun berdasarkan cara induktif dengan mempelajari sifat-sifat yang menonjol dari pimpinan atas keberhasilan tugas yang dijalankan, terutama kemampuan untuk memimpin. Kualitas-kualitas apa yang dimiliki oleh para pemimpin, dan kemudian dikaitkan dengan latar belakang asal usulnya sebagai factor potensi.
            Dalam kelompok teori ini diasumsikan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil memainkan peranan dan sifat-sifat unik dan kualitasnya adalah superior. Sifat-sifat inilah kemudian dikelompokkan sebagai kekhasan dari ciri-ciri kepemimpinan. Kelompok teori ini akan menjurus pada teori traits of leadership dan traits

6.    Teori Enviromental
Teori ini berpendapat bahwa kepemimpinan didapatkan karena faktor lingkungan sosial yang merupakan tantangan untuk dapat diatasi dan diselesaikan. Disamping itu seorang pemimpin bergantung pada zaman dimana ia hidup untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sesuai dengan situasi dewasa ini.

7.       Teori Situasi Personal
Teori ini beranggapan adanya suatu fielddynamic of leadership. Teori ini selanjutnya menerangkan bahwa interaksi antara pemimpin dan situasinya membentuk tipe-tipe kepemimpinan tertentu. Timbullah suatu anggapan bahwa tiap situasi dapat membentuk seseorang untuk menjadi seorang pemimpin.

8.    Teori Interaksi Harapan
Dalam teori ini lebih menitikberatkan pada dinamik interaksi antara pemimpin dengan rakyatnya dan melalui interaksi ini dapat dijaring harapan-harapan dan keinginan-keinginan dari masyarakatnya. Pada umumnya pemimpin hanyaa bekerja dibelakang mejanya dan memaksakan keinginannya sehingga kurang memperhatikan harapan-harapan dan keinginan dari masyarakatnya secara mendasar.

9.     Teori Humanistik
Teori humanistik menyatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah mengatur kebebasan individu untuk dapat merealisasi motivasi dari rakyatnya agar dapat bersama-sama mencapai tujuannya. Oleh karena itu yang lebih penting dalam teori ini adalah unsur organisasi yang baik yang dapat memperhatikan factor-faktor kebutuhan rakyatnya.

10. Teori Penukaran
Pada teori ini diungkapkan bahwa interaksi sosial ini akan menghasilkan bentuk perubahan dimana para pengikutnya akan berpartisipasi aktif.
Model kepemimpinan yang berkembang dalam kehidupan kebangsaan dewasa ini telah membawa kepada kompleksitas permasalahan mengenai kepemimpinan itu sendiri karena banyak orang yang telah menjadi pemipin yang tidak dilembagakan, sumber dari kepemimpinan semacam ini bukan melalui lembaga formal, melainkan karena kualitas individu.


III (a) Perencanaan

Dalam ilmu menejemen menjelaskan bahwa salah satu fungsi pokok manajemen adalah perencanaan, dimana dalam ilmu manajemen menjelaskan bahwa fungsi pokok manajemen terdiri dari perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Perencanaan merupakan salah satu fungsi pokok manajemen yang pertama harus dijalankan. Sebab tahap awal dalam melakukan aktivitas perusahaan sehubungan dengan pencapaian tujuan organisasi perusahaan adalah dengan membuat perencanaan.
Definisi perencanaan dikemukakan oleh Erly Suandy (2001:2) sebagai berikut :
“Secara umum perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh.”
Dalam manajemen, Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tidak akan dapat berjalan. Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

III (b) Manfaat Perencanaan

1.    Standar pelaksanaan dan pengawasan.
2.    Pemilihan berbagai alternative terbaik.
3.    Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan.
4.    Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi.
5.    Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
6.    Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait, dan,.
7.    Alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti.
8.    Mengarah pada tindakan yang bertujuan.
9.    Menghindari kesalahan atau risiko.
10.  Memungkinkan pendelegasian tugas (kekuasaan).
11.  Memungkinkan koordinasi.
12.  Metode yang digunakan bisa lebih baik.
13.  Bisa berhemat atau ekonomis dana.
14.  Bisa menghemat tenaga manajemen.
15.  Sebagai dasar untuk pengendalian.


III (c) Jenis Perencanaan Dalam Organisasi

        1.    Perencanaan Strategis
Perencanaan strategis dianggap oleh organisasi secara keseluruhan dan dihasilkan oleh tingkat hirarki yang lebih tinggi dari sebuah organisasi. Berkaitan dengan tujuan jangka panjang dan strategi dan tindakan untuk mencapainya.
Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih.
Hal ini biasanya dilakukan dalam organisasi pada tingkat manajerial, atau tingkat tertinggi perintah, yang dilakukan dengan cara taktik dan prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau diberikan perencanaan jangka panjang lebih dari 5 tahun.
Perencanaan strategis juga merupakan suatu hal untuk merencanakan strategi dalam segala hal, atau dalam kehidupan sehari-hari setiap orang.

       2.      Perencanaan Taktis / Taktik
Pada tingkat kedua dari perencanaan, taktis, kinerja berada dalam setiap area fungsional bisnis, termasuk sumber daya tertentu. Perkembangannya terjadi oleh tingkat organisasi menengah, bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia untuk jangka menengah proyeksi. Dalam perusahaan besar dengan mudah mengidentifikasi tingkat perencanaan, yang diberikan oleh setiap kepala bagian.
Bagian taktis merupakan proses yang berkelanjutan, yang bertujuan dalam waktu dekat, merampingkan pengambilan keputusan dan menentukan tindakan. Bagian Ini dilakukan secara sistemik karena merupakan totalitas yang dibentuk oleh sistem dan subsistem, seperti yang terlihat dari sudut pandang sistemik. Apakah iteratif, dan proyek mana yang harus fleksibel dan menerima penyesuaian dan koreksi. Teknik ini memungkinkan pengukuran siklus dan evaluasi sebagai dijalankan yang secara dinamis dan interaktif dilakukan dengan orang lain, dan merupakan teknik yang mengkoordinasikan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari efisiensi.

         3.     Perencanaan Operasional
Ketidakpastian yang disebabkan oleh tekanan dan pengaruh lingkungan harus berasimilasi pada pertengahan atau taktik yang harus mengkonversi dan menafsirkan keputusan strategis, tingkat tertinggi, ke dalam rencana konkrit di tengah dan membuat rencana yang akan dilakukan dan, pada gilirannya, dibagi lagi menjadi rencana operasional dan rincian yang akan dijalankan pada tingkat operasional.
Karena jadwal pada tingkat operasional sesuai dengan set bagian homogen dari perencanaan taktis, yaitu, mengidentifikasi prosedur spesifik dan proses yang diperlukan di tingkat bawah organisasi, menyajikan rencana aksi atau rencana operasional. Hal ini dihasilkan oleh tingkat organisasi yang lebih rendah, dengan fokus pada kegiatan rutin perusahaan, oleh karena itu, rencana dikembangkan untuk waktu yang singkat.
Perencanaan Operasional ini dilakukan pada karyawan di tingkat terendah dari organisasi. Membuat perencanaan kecil sebuah organisasi dan merinci bagaimana tujuan akan dicapai. Bahkan, semua titik dasar perencanaan terjadi di tingkat operasional, yang sangat mempengaruhi dan menentukan, bersama dengan, hasil taktik.
Termasuk tugas-tugas operasional dan skema operasi yang benar dan efisien dalam menjalani sistem pendekatan reduksionis proses khas ditutup. Hal ini dilakukan berdasarkan proses diprogram dan teknik komputasi. Ini mengubah ide menjadi kenyataan, atau mengeksekusi tujuan dari suatu tindakan melalui berbagai rute, jangka pendek pekerjaan umumnya kurang dari 1 tahun.

        4.       Perencanaan Normatif
Mengacu pada penciptaan standar, kebijakan serta peraturan yang ditetapkan untuk operasi organisasi. Hal ini bergantung pada pembentukan standar, metodologi dan metode untuk berfungsinya kegiatan yang direncanakan.
Standar-standar tentang pendirian aturan dan / atau undang-undang dan / atau kebijakan dalam setiap kelompok atau organisasi, terutama untuk menjaga pengendalian, pemantauan dan pengembangan perencanaan dan pengembangan standar dan kebijakan.
Perencanaan berhubungan erat dengan desain struktur organisasi. Ini berlaku di daerah yang sangat spesifik, yang umumnya adalah mereka yang mengawasi dan menentukan aspek pada tingkat lainnya tidak dapat dipisahkan.


Daftar Pustaka

Sri Wiludjeng. Pengantar Manajemen (Yogyakarta: Garaha Ilmu, 2007).
Husaini Usman. Manajemen(Jakarta: Bumi Aksara, 2008).
Kartini Hartono, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan, dan Industri, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994).




Rabu, 09 Juli 2014

Tugas Kesehatan Mental-Perubahan Diri


     Contoh kasus yang ingin saya ubah dalam diri saya adalah sifat saya yang suka mengulur-ngulur waktu dalam mengerjakan sesuatu, salah satunya adalah mengerjakan tugas kuliah. Disini saya akan membahas tentang beberapa tahapan yang akan saya lakukan untuk merubah sifat saya tersebut. Berikut tahapannya : 
      1.      Meningkatkan kontrol diri
Caranya adalah melakukan pengendalian diri sebagai perilaku yang dipelajari. Saya harus bisa mengendalikan diri saya agar bisa lebih bisa menghargai waktu dan tidak mengulur-ngulur waktu dan mengetahui konsekuensi apa yang akan saya dapatkan nantinya jika saya selalu mengulur-ngulur waktu. Saya menyadari kalau banyak sekali konsekuensi yang muncul apabila selalu mengulur-ngulur waktu, misalnya tugas kuliah saya jadi menumpuk padahal masih ada tugas-tugas kuliah lainnya yang belum saya kerjakan hingga akhirnya tugas tersebut sudah masuk deadline, dengan sifat saya yang seperti itu tugas saya jadi terbengkalai dan saya pun bisa menjadi pusing sendiri karena tugas-tugas yang sudah dikejar deadline. Maka dari itu saya sangat ingin mengubah sifat saya ini.

2.      Menetapkan tujuan
Menetapka tujuan disini terdiri dari mendefinisikan perilaku sasaran dan menetapkan tujuan yang dapat dicapai. Yang dimaksud dengan mendefinisikan perilaku sasaran adalah saya harus menargetkan perilaku yang menjadi tujuan sasaran saya yaitu tidak lagi mengulur-ngulur waktu dalam mengerjakan tugas dan lebih bisa menghargai waktu. Kemudian adalah menetapkan tujuan yang dapat dicapai yaitu, saya harus membuat program perbaikan untuk diri saya agar saya tidak mengulur-ngulur waktu lagi agar saya tidak terlambat dalam menjalani aktifitas saya yang lainnya.

3.      Pencatatan perilaku
Pencatatan perilaku disini dilakukan dengan cara measure of the duration or amount of time invested in the behavior (mengukur durasi atau waktu ketika melakukan sesuatu). Yang membuat saya menjadi mengulur-ngulur tugas saya karena mindset yang ada dalam diri saya yaitu karena durasi tugas dikumpulkan masih sangat lama dan terkadang saya berpikiran bahwa ada beberapa tugas yang ada itu mudah jadi dalam waktu tidak sampai satu hari dapat terselesaikan, maka dari itu saya harus dapat mengatur waktu dalam mengerjakan tugas secepat mungkin sebelum jatuh tempo pengumpulan tugas.

4.      Menyaring antisenden perilaku
Sifat saya yang seperti telah saya jelaskan diatas cenderung sering terjadi karena saya seringkali menganggap bahwa itu tugas yang mudah, tidak butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Karena saya ingin menghilangkan sifat yang tidak menguntungkan saya sama sekali tersebut, strategi terbaik adalah dengan mengurangi antisenden tersebut.

5.      Menyusun konsekuensi yang efektif
Yang membuat saya mengulur-ngulur waktu dalam mengerjakan tugas kemungkinan karena saya mindset saya yang menganggap bahwa tugas tersebut mudah dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakannya, konsekuensinya yang akan saya dapatkan adalah tugas-tugas saya menumpuk dan tugas-tugas tersebut jadi terbengkalai. Maka dibutuhkan reinforcers, reinforcers dibagi menjadi dua yaitu reinforcers positif dan reinforcers negative. Reinforcers positif adalah yang memperkuat perilaku yang diberikan langsung jika saya tidak pernah mengulur-ngulur waktu dalam mengerjakan tugas, dan reinforcers negative terdiri dari mengurangi atau menghilangkan stimulus yang tidak menyenagkan, apabila saya mengulur-ngulur waktu maka akibatnya tugas saya akan menumpuk banyak dan tidak ada satupun tugas saya yang selesai dan jika tugas-tugas saya sudah menumpuk dan sudah jatuh tempo pengumpulan tugas, saya akan merasa panik dan cemas. Cemas adalah salah satu stimulus yang tidak menyenangkan.

6.      Menerapkan perencanaan yang efektif
Agar saya dapat berhasil dan lancar dalam mengubah perilaku yang ingin saya hilangkan maka saya juga harus konsisten dengan segala yang sudah saya rencanakan sejak awal.

7.      Evaluasi
Saat saya melakukan rencana untuk mengubah sifat saya yang tidak baik dengan kesungguhan dan usaha-usaha yang cukup maka saya akan mendapatkan hasil yang saya inginkan. Begitupun sebaliknya, jika saya tidak serius dan setengah hati dalam melakukannya maka perubahan dalam diri saya tidak akan tercapai dan tidak akan mengalami perbaikan apapun.

Rabu, 02 Juli 2014

TUGAS INDIVIDU KESEHATAN MENTAL


Nama : Yunizar Trisna
     NPM   : 17512976
       Kelas  : 2PA06


Tugas Individu Mata Kuliah Kesehatan Mental
Saya melakukan wawancara kepada sepasang suami istri yang sudah menikah hampir 19 tahun. Kelurga kecil pasangan suami istri tersebut memiliki 3 orang anak. Anak laki-laki sulung mereka sekarang sudah memasuki salah satu Universitas di Bandung, anak kedua yang merupakan seorang remaja wanita mereka duduk dibangku Sekolah Menengah Atas dan anak bungsunya yang juga laki-laki duduk dibangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Keluarga pasangan suami istri tersebut adalah keluarga yang harmonis dengan ketiga anaknya yang sangat patuh kepada kedua orangtuanya serta tidak pernah malu dalam membantu pekerjaan orangtua mereka.
Dengan melihat keharmonisan dari keluarga pasangan suami istri tersebut, disini saya ingin mengetahui bagaimana cara kedua pasangan suami istri ini tetap bisa sangat harmonis dan romantis satu sama lain terhadap pasangannya. Serta bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka agar menjadi pribadi yang mungkin kebanyakan orangtua mengingankannya pula ada dalam diri anak mereka masing-masing. Berikut adalah jawaban dari pasangan suami istri tersebut:
  1. Dalam keluarga kami yang paling terpenting adalah harus selalu terjalin komunikasi yang baik satu sama lain, saling mempercayai pasangan satu sama lain dan kapanpun, dimanapun kami harus tetap saling memberi kasih sayang yang tulus kepada satu sama lain tanpa ada paksaan dari salah satu pihak. Jika kami ada masalah apapun itu bentuknya kami selalu membicarakannya baik-baik dan jangan sampai anak-anak kami mengetahui kalau suatu hari kami sedang bertengkar. Pokoknya saya mengusahakan apapun kondisi yang terjadi dalam keluarga saya jangan sampai pihak-pihak lain tahu karena saya tidak mau memperkeruh suasana dalam rumah tangga saya.
  2. Kami dalam mendidik ketiga anak kami selalu menanamkan sikap kejujuran, dan dalam menyayangi anak kami, tidak ada anak kami yang kami istimewakan karena saya pribadi tidak ingin ada kecemburuan antara anak saya yang satu dengan yang lainnya. Saya juga selalu mengajarkan kepada anak saya untuk selalu membantu orangtua dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti membantu saya mengepel rumah, menyapu lantai dll karena saya tidak ingin anak saya menjadi anak yang manja dan terlalu tergantung dengan orang lain. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk hidup perihatin karena saya tidak mau kalau anak saya menjadi pribadi yang sombong.

Kesimpulan dari wawancara saya dengan sepasang suami istri ini adalah bahwa dalam setiap keluarga yang baik, hal yang terpenting adalah harus terjalinnya komunikasi yang baik satu sama lain serta selalu percaya dengan pasangan anda. Jangan sampai ada perpecahan antar pasangan anda hanya karena miss communication antara salah satu pihak dengan pihak lainnya. Dan untuk orangtua yang menginginkan mempunyai anak-anak yang rukun satu sama lain dengan saudara serta patuh kepada perintah orangtua harus menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, jiwa sosial yang tinggi(empati) agar kelak anak tersebut tidak menjadi pribadi yang sombong dan tidak bisa menghargai orang lain kedepannya.

Kamis, 01 Mei 2014

TUGAS ANALISIS KASUS

ANALISIS KASUS KECELAKAAN ABDUL QODIR JAELANI (DUL) 

Kronologis Kejadian

 Semula kendaraan Mitsubhisi Lancer B-80-SAL datang dari arah selatan menuju ke arah utara dengan melewati jalan Tol Jagorawi, sesampainya di KM8 di duga kurang hati-hati dan hilang kendali sehingga menyebrang ke jalur B ( arah utara selatan) menabrak kendaraanAvanza B-1882-UZJ bagian samping kanan belakang kemudian menabrak Mitsubhisi Grand Max B-1349-TFN. Akibat dari benturan tersebut mengakibatkan rusaknya ketiga kendaraan yang terlibat.
Perkiraan kecepatan terakhir kendaraan berdasarkan temuan di TKP dilihat dari spidometer mobil dalam keadaan berhenti yaitu Mitsubhisi Lancer dengan kecepatan 82 km/jam, sedangkan Mitsubhisi Grand Max dengan kecepatan 78 km/jam. TKP diperkirakan tepat pada KM8, sedangkan jarak dari gerbang tol cibubur menuju gerbang tol cawang kurang lebih 13KM yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 16 menit.


  1. II.     ANALISA FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN
    1. A.  Faktor Pemakai Jalan
      1. 1.    Pengemudi Lancer (umur 13 Th)
Diketahui pengemudi lancer mengemudikan kendaraan dari arah Bogor menuju Jakarta via Tol Jagorawi. Dari peristiwa tersebut dapat memunculkan ragam pertanyaan, diantaranya :
  • Bagaimana kemampuan mengemudi si anak ? kemampuan tersebut akan berkorelasi dengan “waktu reaksi” pada saat sesaat sebelum terjadinya kecelakaan.
  • Berapa tinggi badannya ? karena akan berpengaruh dengan jarak pandang si pengemudi.
  • Bagaimana kondisi psikologis si pengemudi sebelum terjadinya kecelakaan ? hal ini sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan pengemudi dalam mengemudikan kendaraannya. Apakah dia sedang senang karena habis bertemu pacar ? apakah justru dia berkelahi dengan sang pacar? Ataukah didalam mobil dia berkelahi dengan rekannya didalam mobil?
  • Bagaimana kondisi kesehatan si pengemudi? Apakah dia dalam keadaan mabuk atau dalam pengaruh alcohol?
  • Apakah pengemudi mengantuk? Atau kelelahan? Karena waktu menunjukan pukul 00.45 wib dimana waktu tersebut lazim digunakan orang untuk beristirahat.

  1. 2.    Pengemudi Avanza? (HENDRA SASONGKO)
Dalam analisa olah TKP dikatakan bahwa mobil lancer kali pertama adalah bertabrakan dengan mobil avanza. Pengemudi Avanza harus dimintai keterangannya terkait dengan kondisi kesehatannya serta situasi sesaat sebelum terjadinya kecelakaan. Kemudian yang tidak kalah penting adalah pertanyaan terkait dengan kondisi pengemudi saat mengemudikan kendaraan Avanza tersebut, yakni :
  • Bagaimana kondisi jalan saat sebelum terjadinya kendaraan ? hal ini terkait dengan situasi penerangan jalan mengingat kondisi kejadian dimalam hari, terkait dengan jarak pandang pengemudi, termasuk dengan melihat kondisi TKP yang ditimbulkan oleh mobil Avanza yang dimaksudkan untuk mengetahui dimana letak titik tabrak pertama.

  1. 3.    Pengemudi Grand Max (35 tahun)
Kendaraan Grand Max adalah kendaraan yang dimana penumpangnya mengalami korban meninggal dunia. Dari olah TKP ditemukan bekas jejak rem dari kendaraan Grand Max tersebut, maka perlu diselidiki mengenai perlambatan (m/s2) yang dilakukan oleh kendaraan ini. Dari sini bias diketahui berapa kecepatan awal (V0), dan waktu pengereman yang dilakukan. Maka akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
  • Apakah pengemudi adalah pemilik kendaraan ? pertanyaan ini berkaitan erat dengan perubahan modifikasi mobil yang pada faktanya berisikan 13 penumpang.
  • Bagaimana kondisi pengemudi ? mengantuk,lelah, ataukah dalam keadaan sehat. Hal ini berkaitan dengan kemampuan waktu reaksi yang akan dimunculkan.

  1. 4.    Etika Berlalu lintas
Etika berlalu lintas berkaitan erat dengan kebiasaan yang dimunculkan oleh ketiga pengemudi tersebut. Apakah para pengemudi tersebut terbiasa menggunakan kendaraan, mengecek kendaraan, menggunakan sabuk pengaman dan sebagainya. Untuk kasus kecelakaan ini, pengemudi lancer selayaknya belum dapat mengendarai kendaraan sendiri, mengingat tingkat kedewasaan si pengemudi yang masih tergolong anak-anak.

  1. B.  Faktor Kendaraan
Faktor kendaraan merupakan salah satu factor yang penting dalam menentukan penyebab kecelakaan, pada kasus ini dibutuhkan analisa terkait kendaraan dengan memunculkan pointer sebagai berikut:
  1. 1.    Apa kah semua kendaraan yg terlibat masih standard pabrikan?
  • Kendaraan Mitsubhisi Lancer EX memiliki mesin 4-clylinder 16-valve DOHC yang ringan dengan teknologi MIVEC (Mitsubhisi Innovative Valve Timing and Lift Electronic Control) yang mampu menghasilkan tenaga 155 PS. Airbags available (dual), dan dilengkapi dengan Brake System (Front) 16” ventilated disc dan (Rear) 16” disc. (Hydraulic with booster ABS+EBD+BA).
  • Kendaraan Daihatsu Grand Max memiliki mesin berpendingin air dengan kapasitas silinder 1298 cc (bergantung jenis) yang dapat menghasilkan tenaga 88 PS. Brake system (front) Disc with booster dan (Rear) Tipe drums, leading & trailing. Kapasitas 9-11 orang.

  1. 2.    Jika ya, maka apakah masih berfungsi semua dengan baik?
Salah satu factor yang mutlak dianalisa jika mobil masih sesuai dengan standard pabrikan adalah factor kelaikan jalan. Artinya apakah lingkup Primery Safety dan Secondary Safety dari kendaraan tesebut berjalan dengan baik?
Ruang lingkup Primery Safety diantaranya adalah sistem pengereman (rem), kemudi, serta stabilitas kendaraan, sedangkan lingkup Secondary Safety diantaranya adalah fungsi airbags dan Sabuk Pengaman.

  1. 3.    Jika tidak, apa yg diubah?
Apabila pada kenyataanya kendaraan tersebut (Lancer) sudah mengalami perubahan (modifikasi) maka harus diselidiki bagian mana yang berubah. Pada umumnya bagian yang dirubah adalah terkait dengan body kendaraan serta interior luar kendaraan termasuk diantaranya jenis ban dan velg. Secara umum perubahan (modifikasi) yang dilakukan tentu saja akan memberikan dampak pada kemampuan standard yang dimiliki oleh kendaraan tersebut.

  1. C.  Faktor  Jalan
Faktor Jalan (road environment) merupakan factor lingkungan binaan, artinya sarana tersebut diciptakan oleh manusia, sehingga selayaknya dapat direncanakan dan dirancang dengan memenuhi nilai-nilai keselamatan bagi pengguna jalan. Untuk itu perlu kiranya dianalisa mengenai kondisi jalan dengan memunculkan point sebagai berikut:
Jalan Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan


  1. D.  Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan pada jalan memberikan pengaruh terhadap kegiatan berlalu lintas yang terjadi di jalan tersebut. Dari factor ini maka terdapat beberapa pointer yang harus dianalisa diantaranya:
  1. 1.    Bagaimana situasi pada waktu terjadinya kecelakaan lalu lintas tersebut?
Kecelakaan terjadi sekira pukul 00.45 wib, waktu dimana penerangan alam sangat minim (posisi bulan bukan purnama), sehingga penerangan jalan mengandalkan lampu jalan yang terdapat di sepanjang jalan told an lampu kendaraan yang dihasilkan oleh mobil.
  1. 2.    Bagaimana kondisi cuaca pada saat kejadian?
Cuaca pada saat kejadian berlangsung dalam keadaan cerah, sehingga logika nya tidak terjadi perubahan suhu pada permukaan jalan.
  1. 3.    Tingkat keramaian sehari-hari (Rataan Volume Lalu lintas harian)
Rataan volume kendaraan berfungsi untuk mengetahui aktivitas aktif dari jalan tersebut, sekalipun waktu kejadian menunjukan dinihari namun hari tersebut adalah hari minggu yakni waktu dimana banyak pengguna jalan yang hendak kembali menuju Jakarta.
  1. 4.    Bagaimana pengawasan keamanan jalan tol pada saat malam kejadian?
Hal ini dibutuhkan untuk mengetahui dari pintu tol mana Lancer datang dan siapa petugas tol pada saat itu? Apakah petugas tol melihat jika tersangka adalah seorang anak dibawah umur? Lalu dimana posisi Patroli terdekat?


  1. III.     ANALISA YURIDIS
Analisa yuridis didasarkan pada hokum positif yang berlaku di Indonesia, dimana pada umumnya diarahkan pada aspek pidana. Dalam kasus ini sejatinya aspek Perdata juga dapat dipersangkakan Dimana tergugat adalah subjek hokum yang berdiri sendiri yakni pengemudi kendaraan (PELAKU), dimana gugatan dapat berupa kerugian materi maupun immateri, namun pada pembahasan ini hanya akan dibahas mengenai aspek Pidana.

  1. A.  Anatomi of crime
  2. 1.   Peristiwa
Telah terjadi adanya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan Mitsubhisi Lancer, Toyota Avanza dan Daihatsu Grand Max di jalan Tol Jagorawi Km 8,2. Terdapat korban meninggal dunia, Luka Berat, dan Luka Ringan.
  1. 2.   Subjek Hukum
  • Pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka diduga adalah ACHMAD ABDUL  QODIR (13thn), pengendara kendaraan Mitsubhisi Lancer
  • AHMAD DANI, dalam hal terjadinya penyertaan (Deelneming), yakni situasi dimana terdapat lebih dari 1 (satu) orang sehingga harus dicari pertanggung jawaban dan peranan masing-masing pelaku. Penyertaan ini masih perlu dikaji dengan meminta keterangan saksi AHMAD DANI mengenai apakah saksi/tersangka tersebut melakukan perbuatan “Menyuruh Melakukan” atau “Membantu Melakukan”.
  1. 3.   Saksi
Saksi dalam peristiwa ini dapat berasal dari rekan Dul yang berada didalam mobil Lancer dan duduk disebelah Dul, Pengemudi ataupun penumpang pada mobil Avanza dan Grand Max serta orang lain yang dimungkinkan dapat berperan sebagai saksi.
  1. 4.   Bukti
Bukti yang ada berupa SIM dan rangka kendaraan.

  1. B.  Perkenaan Pasal
Adapun pasal yang dipersangkakan terhadap ACHMAD ABDUL  QODIR, pengendara kendaraan Mitsubhisi Lancer yaitu pasal 310 ayat 1-4 serta pasal pelanggaran yaitu pasal 105 ( ketidaktertiban berlalu lintas ), pasal 106 ( tidak konsentrasi dalam berkendaraan di jalan raya), pasal 281 jo 77 ( ketidakpemilikan SIM) UULAJ No. 22 Tahun 2009.
  • Pasal 310 ayat (3)
Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah)
  • Pasal 310 ayat (4)
Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

  1. C.  Pembuktian
Pada bagian inilah analisa yuridis ini memunculkan ragam pendapat, namun demikian selama pemenuhan unsure pasal 184 KUHAP dapat terlaksana serta didasarkan pada Scientific Criminal Investigation maka fakta yuridis dapat terpenuhi.
  1. 1.   Menentukan Kelalaian
Kealpaan (culpa) dapat diartikan sebagai kesalahan dimana seseorang mengerti dan memahami akibat yang ditimbulkan dari perbuatan yang telah dilakukannya.

  1. 2.   Olah TKP
Pelaksanaan TKP memiliki arti yang begitu besar dalam proses pembuktian tindak pidana pada kecelakaan ini. Dari sekian banyak pengumpulan barang bukti yang terdapat sesaat setelah kejadian maka akan membuat semakin terangnya proses penyidikan.


  1. 3.   Pemenuhan Alat Bukti
Pemenuhan alat bukti sebagaimana dimaksud Pasal 184 KUHAP menjadi titik krusial dalam pembuktian yang dilaksanakan oleh penegak hokum.
  1. a.      Keterangan Saksi
Dari sekian banyak orang yang mengalami,menyaksikan,melihat ataupun mengetahui kejadian kecelakaan tersebut, setidaknya ada beberapa saksi yang dapat dijadikan sumber keterangan utama diantaranya :
  • Noval, adalah rekan Dul yakni penumpang yang duduk bersebelahan dengan Dul di kendaraan Lancer. Keterangannya terkait kejadian yang terjadi sesaat sebelum kejadian sangat dibutuhkan.
  • Penjaga pintu tol, tempat dimana Lancer masuk Tol Jagorawi juga cukup dibutuhkan guna memberikan keterangan tentang betul atau tidaknya Dul yang mengendarai kendaraan tersebut.
  • Penumpang Avanza, guna membuat terang kejadian pasca crash mobil lancer menabrak batas jalan dan terlempar kejalur yang berlawanan.
  • Penumpang Grand Max, guna mengetahui keadaan sesaat sebelum Grand Max tertabrak Lancer, situasi lingkungan, dan kejadian sesaat setelah mobil tersebut terlihat terhempas menuju Grand Max

  1. b.  Keterangan Ahli
  • Keterangan Agen Tunggal Pemegang Merk Mitsubhisi guna mengetahui aspek kendaraan Lancer,serta penyebab terjadinya slip pada mobil tersbebut.
  • Keterangan Dokter untuk memastikan kondisi kesehatan fisik Dul sebelum kejadian serta factor penyebab kematian.
  • Keterangan Pihak Jasa Marga mengenai pemenuhan aspek nilai keselamatan dari jalan tol Jagorawi
  • Ahli Kinematika guna memastikan keterangan petunjuk dari hasil olah TKP mengenai penghitungan Kinematika


  1. c.  Petunjuk
  • Petunjuk utamanya mengenai barang bukti yang disita di TKP, kerusakan mobil,jenis ban, bekas darah, bekas pecahan kaca, pematasan jalan dsb

  1. e.  Keterangan Terdakwa
  • Keterangan Dul pada saat dipersidangan

  1. IV.     ANALISA SOSIOLOGIS
    1. A.  Kondisi Psikologis si Anak sebelum kecelakaan
Menurut pendapat dari Kementrian Pendidikan Nasional, bahwa pengaruh perceraian orang tua terhadap anak yaitu anak berperilaku apapun karena ibu dan ayah merasa bersalah, hal ini tidak benar karena anak tetap memerlukan aturan agar merasa aman. Dalam kasus ini, bahwa perlunya kasing sayang dari ibu dan ayah sehingga keduanya saling melengkapi terhadap aturan-aturan yang harus diturunkan kepada si anak sehingga dapat dibedakan mana yang aturan yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.
Mengapa seorang anak berumur 13 tahun diberikan mobil? Secara logika, anak berumur 13 tahun belum memahami betul akibat yang dapat muncul dari perbuatannya yang mengendarai kendaraan, kemudian secara hokum anak berumur 13 tahun tidak memenuhi persayaratan untuk mengendarai kendaraan dijalan umum (aturan pembuatan SIM). Terlebih si anak dalam umur yang relative masih anak-anak, sudah menjadi public figure (artist), sehingga lingkungan yg tercipta lebih mengarah pada kemewahan (glamour). Hal ini akan member pengaruh pada pola pikir,cara bergaul, dan berkomunikasi dengan orang lain.

  1. B.  Pendidikan Sekolah
Keterangan media menyatakan bahwa Dul memiliki nilai yang cukup baik namun sering tidak masuk sekolah. Hal ini mengindikasikan tidak sempurnanya sistem control yang diberikan dari lingkungan sekolah.

Rabu, 09 April 2014

Pribadi yang sehat menurut Erich Fromm

Kesehatan Mental


Oleh:
Erlinda Oktaviati (12512540)
Desi Lisnawati (11512889)
Rangga Prasetyo (16512021)
Salsabila Setiawan (16512797)
Yunizar Trisna (17512976)
2PA06
Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma 2012





   1.     Pengertian dasar teori Erich Fromm
Secara singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut:
a.   Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negatif di mana manusia-manusia melarikan diri.
b.   Manusia selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam; merupakan binatang, dan sekaligus manusia.
c.     Aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa, “pemahaman tentang psikhe manusia harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusa yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya.
d.     Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
e.   Sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus dan biofilus. Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkan biofilus adalah orang yang mencintai kehidupan.
f.       Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah sdemikian menggenjala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan produktif.

1 2.     Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm
Kepribadian sehat menurut Eric Fromm adalah teori yang menggunakan pendekatan sosial psikologis dimana pemusatan perhatianya pada penguraian cara-cara dimana struktur dan dinamika-dinamika masyarakat tertentu membentuk para anggotanya sehingga karakter para anggota tersebut sesuai dengan nilai yang ada pada masyarakat . Karena pada dasarnya manusia terpisah dari alam dan dari sesamanya maka cara mempersatukan adalah melalui belajar bagaimana mencitai atau bagaimana meemukan keamanan dengan menyelaraskan keinginannya dengan masyarakat yang otoriter , karna manusia adalah mahluk yang memiliki kesadaran pikiran akal sehat daya akal, kesanggupan untuk mencintai, perhatian tanggung jawab integritas bisa di lukai mengalami kesedihan sehingga apbila dalam kaitanya manusia kurang dalam menanggapi hal yang di sebutkan tersebut maka manusia tersebut bisa di katakan tidak sehat secara mental menurut Erich Fromm.
Kebutuhan dasar manusia menurut eric fromm :
a.      Kebutuhan akan keberhubungan kebutuhan ini adalah secara spesifik aktif dan produktif mencintai orang lain .
b.   Kebutuhan akan trandensi mengungguli alam menjadi mahluk yang kreatif Kebutuhan akan kemantapan ingin meiliki rasa bersahaja pada dunia dan orang lain supaya dapat beradaptasi di dunia .
c.   Kebutuhan akan idenditas brusaha untuk memiliki rasa idenditas personal dan keunikan guna menciptakan rasa yang terlepas dari dunia.
d.   Kebutuhan akan kerangka orientasi untukmencptakan rasa yang terlepas dari dunia. Hal kebutuhan tersebut adalah sifat alamiah dari manusia menurut fromm dan ini berubah saat evolusi namun manivestasi dari kebutuhan ini adalah akan memunculkan potensi-potensi batiniah di tentukan oleh aturan-aturan sosial di mana ia hidup dan kepribadian seseorang berkembang menurut kesempatan-kesempatan yang di berikan kepadanya oleh masyarakat tertentu .
Sehingga kepribadian sehat menurut Erich Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup dalam masyarakat sosial yang ditandai dengan hubungan-hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh solidaritas penuh cinta dan tidak saling merusak atau menyingkirkan satu dengan lainnya. Tujuan hidup seorang pribadi adalah keberadaan dirinya itu sendiri dan bukan pada apa yang dimiliki, pada apa kegunaannya atau fungsinya.
2  3.    Ciri-ciri Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm
Menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat.
b.       Mampu mencintai dan dicintai.
c.        Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
d.        Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
e.         Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
f.         Memiliki watak sosial yang produktif.

Sumber:

Feist, Jess., Feist, Gregory J. (2013). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika